chuurreal

Kenma baru tidur jam 1 pagi. Tetsurou terkapar di kamar anaknya dan justru bangun paling terakhir. Ya, kalau anak begadang, otomatis orang tua juga tidak akan bisa tidur dengan tenang.

Mau tenang bagaimana kalau tiba-tiba si kecil menghilang dari dekapan dan sudah memanjat counter dapur mau bikin susu sendiri, memanaskan apple pie ke microwave, sampai menyalakan PS sendiri dan hampir mencolokkan jarinya ke terminal listrik?

Sebenarnya selama ini Kenma juga bukan anak yang gampang tidur meski ia mageran. Mirip sekali dengan Kei. Awal-awal menikah, Tetsurou saja sampai hampir stress karena ia sudah memasuki alam mimpi tapi Kei malah masih asik main game atau pergi menonton TV di luar.

Tapi setidaknya pagi ini Kenma sudah tidak menangis lagi. Walau mukanya ditekuk, ia memakan sayurnya sampai habis, membantu menata piring ke dishwasher, merapikan mainan dan tempat tidurnya, dan mandi tanpa disuruh.

Sebagai hadiah (yang sebetulnya juga sudah direncanakan jauh hari), Tetsurou mengajak Kenma pergi ke kebun binatang. Kenma terlihat senang! Dia bahkan menyiapkan sepatu Papanya dan mau memasang sabuk pengamannya sendiri saat di mobil.

Tetsurou terharu, anaknya benar-benar bisa diajak kerja sama dan berusaha untuk mandiri seperti janji kemarin.

Kebun binatang hari ini cukup ramai karena sedang musim liburan sekolah. Sepanjang jalan-jalan, Kenma sangat antusias memperhatikan setiap hewan sembari Tetsurou menceritakan beberapa fakta yang ia ketahui. Kenma juga memberanikan diri untuk memberi makan jerapah. Siap-siap saja memori Kei yang akan penuh dengan foto tamasya hari ini.

“Otter!” ucap Kenma sambil menunjuk ke arah kumpulan berang-berang kecil yang mengapung di air.

“Lucu, ya?” Tetsurou menggendong Kenma supaya anaknya bisa melihat lebih jelas dan tidak terhalang pembatas. “Otter itu punya kelopak mata transparan, lho. Jadi di dalam airpun mereka tetep bisa melihat karena kelopak matanya tembus pandang itu tadi. Kalau Kenma renang harus pakai kacamata, kan?”

“Biar engga perih,” timpal Kenma.

“Betuuul! Terus berang-berang itu juga sukanya kumpul sama keluarga. Kalo Kenma suka ga, semisal kumpul sama keluarganya Uncle Aki sama keluarga Uncle Lev?”

Kenma berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kalo sama Uncle Aki sama Aunty Lisa engga apa-apa. Tapi Uncle Lev berisik, jadi Kenma mau Uncle Mori-nya aja.”

“HAHAHAHA!!!”

Tetsurou terbahak sampai dilihatin oleh pengunjung lain, seharusnya dia rekam kata-kata Kenma barusan karena faktanya Lev sangat suka anak-anak sedangkan Morisuke selalu menghindari bocil.

“Woi, Kuroo!!!”

Mendengar namanya dipanggil (sepertinya memang dia yang dipanggil), Tetsurou menoleh dan mencari-cari siapa gerangan pemilik suara itu di antara kerumunan pengunjung.

“Oh, anj-“ Tetsurou langsung menutup mulutnya yang hampir mengumpat saat melihat kenalannya. “Ngapain di sini, sih??? Kurang kerjaan, ya???”

Ternyata cuma Daisho Suguru, tidak bisa dibilang teman dekat karena lebih banyak adu mulut dan tebar aib, tapi mereka lumayan sering hangout bersama Koutarou dan teman-teman voli Tokyo lainnya. Tentu saja Tetsurou kaget kenapa orang ini bisa datang ke Sendai di hari yang random ini.

“Lagi nungguin Mika-chan beli souvenir- Oh, jalan-jalan sama anakmu? Inikah si Kenma-chan yang lucu itu?” tanya Suguru sambil menunjuk Kenma yang sekarang bersembunyi di gendongan Tetsurou.

“Iya,” balas Tetsurou lalu beralih ke anaknya yang makin mengeratkan pelukannya. “Kenma mau say hi sama Uncle Daisho? Ini temen sekolahnya Papa.”

Kenma menggeleng cepat dan Tetsurou tertawa karena sudah menduga akan reaksi tersebut.

“Ga cocok banget jadi bapak-bapak,” kekeh Suguru. “Eh, kapan mau mancing lagi? Kemarin aku diajakin si Tendou ke Okinawa barangkali mau ikut.”

“Ngajakin ke Okinawa kaya mau ke 7-11. Bentar lah, kapan-kapan aja. Ini juga mau ada agenda mancing sama anak Sendai.”

Sementara dua pria dewasa itu sibuk membahas spot pancingan terbaik, Kenma mulai bisa mengerti sebagian besar yang mereka bicarakan. Ia mengalihkan pandangnya pada anak berang-berang yang tadinya berenang dengan orang tuanya, tiba-tiba berpisah dan membuatnya kebingungan sendiri di atas air. Ah, Kenma ikut panik sambil mendengarkan obrolan Papa dan temannya itu.

S-Sepertinya, Papa mau diajak pergi sama om-om yang mukanya kaya ular tikus kaya yang tadi Kenma lihat! Kan, Papa lagi jalan-jalan sama Kenma!

“PAPAAAAAWHWHHAHAAWHHWWWWAAAA”

“Ehh??? Kenapa ini, hm?” Tetsurou menepuk-nepuk punggung Kenma yang sekarang menangis di bahunya, lalu menatap sengit Suguru. “Gara-gara kamu ini-“

“ENAK AJA GARA-GARA AKU???”

“Udah, guys?” Suara lembut dan ceria seorang wanita cantik, yang adalah milik Mika, istri Suguru, menginterupsi pertengkaran mereka. “Oh, no… Ini Kenma-chan, ya? Kenma-chan kenapa?”

“Uncle Daisho nakal, Aunty,” balas Tetsurou, yang masih sibuk menenangkan Kenma tapi tak luput melemparkan senyum mengejek ke arah Suguru yang memasang muka kesal.

“Aduh, memang nakal dia. Nanti Aunty marahin ya, Uncle Daisho-nya! Cup, cup, cup!”

Akhirnya pasangan suami istri itu pergi dan Kenma mulai berhenti menangis karena diberi gantungan kunci red panda oleh Mika.

“Udah kan, Sayang?” Tetsurou mengelap muka Kenma yang basah karena air mata dan ingus dengan saputangannya. “Tadi Papa udah say thank you ke Aunty Mika. Sekarang Kenma masih mau lihat Red Panda apa mau jajan dulu?”

Kenma yang masih sesenggukan, hanya mengangguk dan asik menganalisa gantungan kunci empuk yang tiba-tiba berada di genggamannya. Aduh, itu bukan jawaban. Tapi Tetsurou lega, tangisan yang hari ini tidak selama yang kemarin.

Semoga drama ini segera selesai sebelum Kei pulang besok!

“HUWAAAAAAAAAAAAAA”

Sudah biasa bagi seluruh penghuni perumahan cemara mendengarkan tangisan bocah sepagi ini. Ya, bagaimana tidak biasa? Anak-anak mereka rata-rata berusia 5 sampai 7 tahun. Tentu usia yang sangat wajar bagi bocah umur segitu untuk belajar mengolah emosi.

Yang tidak biasa adalah, itu bukanlah tangisan Kaito yang terkenal sebagai bocah kematian, ataupun Tsutomu yang setiap hari menangisi semua hal.

Tapi, itu suara Kenma!

Iya! Bocah pemiliki ‘penitipan anak’ yang biasanya pasrah, plonga-plongo, dan mageran, pagi ini memiliki tenaga berlebih untuk bisa menangis sekeras itu sampai kedengeran satu blok.

“Kenma… Cup, cup, dong… Nanti Mama telepon kok, kalau sudah sampai,” bujuk Tetsurou yang kewalahan menenangkan anaknya.

“MAMAAAAAAAAHWHAHWHAAAAA”

Kenma masih menangis keras sampai suaranya terdengar parau, ingus serta air matanya sudah meleber kemana-mana, membasahi baju Papa yang sudah lima belas menit menggendongnya berkeliling area perumahan.

Jadi, begini ceritanya: Kei memang sedang ada jadwal outing bersama teman-teman kantornya ke Nagasaki selama dua hari. Sebenarnya tidak bisa dibilang sepenuhnya jalan-jalan juga sih, karena Kei yakin di sana pasti mereka disuruh melakukan sesuatu untuk pekerjaan.

Kei dan Tetsurou sudah melakukan “briefing” dengan Kenma selama satu minggu ini supaya anak mereka tidak kaget dengan Mama yang akan absen sementara di kesehariannya. Meski terlihat tidak rela dan sering ngambek saat diajak bicara, tapi Kenma nampaknya paham kalau Mama pergi untuk bekerja dan juga tidak akan lama.

Lalu mood yang sudah berusaha mereka bangun hancur total ketika pihak kantor datang menjemput Kei setengah jam lebih awal karena ternyata mereka salah memesan jadwal penerbangan. Alhasil mereka harus berangkat saat itu juga supaya tidak ketinggalan pesawat.

Tetsurou maupun Kei berusaha keras membangunkan Kenma tapi ternyata anak itu benar-benar masih lelap. Mungkin kelelahan karena si kecil semalaman nyaris begadang karena gugup mau ditinggal Mama pergi.

Jadinya Kenma yang baru bangun satu jam setelah Kei berangkat, panik mencari mamanya dan menangis saat mengetahui Mama sudah berangkat. Sedih sekali, padahal rencananya mereka masih bisa sarapan bersama. Tetsurou jelas kewalahan karena terakhir Kenma meledak sampai segininya adalah saat anak itu berusia 2 tahunan.

“WUOOOHHH, APPLE PIE!!! KENMA MAU APPLE PIE???” seru Tetsurou heboh, berusaha mengalihkan Kenma pada toko roti yang sudah dekat di jarak pandangnya.

Mendengar makanan kesukaannya disebut, tangis Kenma berangsur reda. Wajahnya sangat merah dan sesekali ia terbatuk karena tangisnya. Tetsurou mengelap muka Kenma yang basah dengan sapu tangannya, juga membersihkan ingus anaknya yang menempel kemana-mana.

“Aupainyawatsarapan?” tanya Kenma dengan suaranya yang sangat serak seperti orang habis makan 100 cabai.

Tetsurou selalu merencanakan menu makan sehari-hari keluarga kecilnya, tapi khusus hari ini dan mungkin besok, sepertinya tidak apa-apa kalau melenceng sedikit dari jadwal.

“Iya, apple pie-nya boleh buat sarapan. Udah dulu tapi nangisnya, ya? Nanti apple pie-nya jadi asin dan melempem kalo Kenma makannya sambil nangis.”

Kenma tidak menjawab, ia masih sesenggukan dan hanya menyandarkan kepalanya dengan lemas ke bahu Papa. Tetsurou menghembuskan nafas lega, memindahkan badan anaknya yang hampir melorot dalam gendongannya ke lengan satunya dan sesekali menepuk punggung si kecil untuk menenangkan.

Pak dokter mulai pegal karena kalau ditotal sudah hampir setengah jam dia menggendong Kenma yang badannya mulai besar. Sepertinya Tetsurou harus kembali nge-gym setiap hari, karena dia cuma olahraga saat Koutarou datang ke Sendai dan mengajaknya ke gym.

Saat hampir sampai ke toko roti yang dituju, mereka berpapasan dengan Tooru yang menuntun Tobio belajar menggunakan sepeda roda tiga.

“Ututu~ Kenma-chan kenapa, kok merah banget mukanya? Dijahilin sama Papanya, ya?” Mulailah Papa Trio Setan mengompori. “Mana Mam—”

Tetsurou langsung melotot, mengisyaratkan dengan jari dan tatapan matanya supaya sama sekali tidak menyebutkan nama Kei. Untungnya walau Tooru sedikit bermulut setan, ia masih bisa diajak kerja sama terutama dalam menghadapi anak tantrum.

Ya, bagaimana lagi… Tooru punya 3 anak yang sering mereog. Tentu dia paham sekali dengan situasi seperti ini.

“Kenma ga dikasih susu sama Papanya, ya?” tanya Tobio. “Di rumah Bio banyak. Kenma boleh ambil satu aja, tapi ambil yang leci aja, ya. Bio ga suka yang itu.”

“Heh! Nawarin yang niat, dong!” tegur Tooru.

Tetsurou terkekeh, lalu memiringkan badannya supaya Kenma yang di gendongannya bisa melihat Tobio dengan jelas.

“Tuh, ditawarin susu sama Bio! Kenma mau?”

Kenma justru menyembunyikan wajahnya di bahu Tetsurou dan mulai merengek lagi.

“Apple pie...”

“Oh, iya, iya. Kenma mau apple pie aja, ya? Itu toko rotinya udah di depan,” timpal Tetsurou, berusaha tidak cemas supaya anaknya tetap tenang, lalu beralih ke Tobio. “Kata Kenma susunya kapan-kapan ya, Bio!”

Shoyo terkikik saat akhirnya wajah Kenma memenuhi layarnya, telah bergabung sepenuhnya pada panggilan video call yang dinyalakannya sejak lima menit lalu.

Padahal ia sudah membayangkan Kenma meneleponnya dengan keadaan tanpa busana, tapi ia muncul dengan hoodie hitam kesayangannya. His boyfriend looks so comfy. Shoyo ingin tenggelam dalam pelukannya saat ini juga.

Kenma terlihat sedang berada di kamar dengan lampu remang dan berbaring nyaman dengan bantal-bantalnya. Biasanya layarnya selalu terlihat gelap dan bernuansa seperti club karena berada di ruang gaming, tetapi Kenma rupanya ingin Shoyo tahu kalau ia sedang tidak sibuk saat ini.

Shoyo sendiri habis melaksanakan latihan paginya dan tengah berjalan-jalan di pinggir kota. Menyusuri kembali garis pantai yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama dua tahun pertama merantau di Brazil demi menaikkan levelnya (begitu sebutan dari kekasihnya). Hampir setiap hari Shoyo pergi ke sana, sekedar lewat saja untuk memenuhi running routine, duduk-duduk dan menikmati pemandangannya, melihat orang-orang yang bermain voli dan jika tak sibuk ia akan bergabung dengan mereka.

Perbedaan waktu di antara mereka terkadang membuat Shoyo greget. Waktu istirahat Shoyo adalah waktu produktif Kenma, begitu juga sebaliknya.

Kenma yang berada di Jepang selalu mengusahakan untuk tetap terjaga hingga pagi agar bisa berkomunikasi dengan Shoyo yang masih disibukkan dengan latihan dan pertandingan. Kenma sendiri juga orang penting yang memiliki beberapa bisnis dan selalu disibukkan dengan inovasi-inovasi untuk mengembangkan perusahaannya. Tetapi lama-kelamaan itu menyerang fisiknya dan membuatnya vakum dari dunia gaming hingga beberapa saat.

Sementara Shoyo, memiliki jadwal yang bisa dibilang cukup ketat. Dia tidak hanya atlet kompetitif, tetapi juga selebriti. Wajahnya terpampang di berbagai iklan produk dan stasiun televisi berlomba-lomba mengundangnya untuk bisa hadir 5 menit di siaran mereka. Sering saat Shoyo akhirnya