chuurreal

Di hari ke-4 setelah tiba di Osaka, tabungan ibu sudah mulai menipis.

Awalnya aku mengira aku dapat membelanjakan keperluan kami dengan baik, tetapi kami butuh bantal dan selimut lebih karena yang disediakan kamar ini terlalu berdebu dan aku harus mencucinya dulu, obat alergi untuk Tsumu yang tertinggal di Hyogo (yang mana tidak murah karena kami juga meninggalkan kartu kesehatan kami di sana), dan pakaian hangat karena si bodoh itu lebih mementingkan buku pelajarannya.

Aku tidak tahu bagaimana bisa ibu mengatur pengeluarannya dengan sangat baik di saat ia harus memenuhi kebutuhan kami yang tak sedikit serta membayar hutang.

Dan aku tidak tahu bahwa tanpa ibu, aku menjadi seboros ini.

“Samu, aku ingin es krim,” ucap Tsumu dengan suara parau sembari menggosok hidungnya yang basah.

“Sudah kubilang, tidak ada es krim sampai kau sembuh,” balasku kesal, mengambil tisu dan memencet hidungnya yang mana ia langsung menanggapi dengan membuang ingusnya dengan keras di sana.

Pilek Tsumu semakin parah, penghangat di ruangan kami baru selesai diperbaiki kemarin tetapi tentu itu tak membuatnya langsung sembuh. Aku sendiri juga merasa kepalaku semakin berat dan tenggorokanku kering setiap harinya. Kalau aku juga ikut sakit, maka bulan ini kami terpaksa harus makan bubur setiap hari.

Kalaupun aku sakit, aku tetap harus melakukan sesuatu. Apa yang akan ibu lakukan?

Bekerja.

Ya, itu satu-satunya cara agar kami tetap dapat makan nasi dan punya tempat untuk tidur seperti sekarang. Bibi onigiri selalu memberikan kami nasi gratis, tapi aku tidak yakin kami akan mendapatkan kemurahan itu selamanya.

Setelah beres dengan ingusnya, Tsumu membungkus kembali tubuhnya dengan selimut dan mencoret-coret bukunya dengan asal. Aku memperhatikannya sambil memakai satu-satunya pakaian formal yang kubawa; seragamku. Kudengar sangat mudah bagi pelajar untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu, jadi mungkin saja aku bisa mendapatkan 3 dalam sehari (jika aku tidak salah membagi waktu).

Masalahnya, apa tidak apa-apa jika aku meninggalkannya dengan keadaan seperti ini? Tidak mungkin aku membiarkannya ikut meskipun ia bersikeras mengikutiku kemanapun. Hanya aku yang bisa ia andalkan saat ini, tapi kalau aku tidak pergi...

Bibi onigiri sudah pergi menjajakan dagangannya dan aku tidak mengenal tetangga kamar yang lain, karena lagipula, mereka semua adalah pelajar yang sibuk dan tidak sepertiku yang putus sekolah seperti ini.

Ini bukan saatnya berkabung. Demi kehidupan yang kuharap lebih baik, aku harus membuang kenangan dan egoku sendiri.

Kepalaku semakin sakit saja rasanya memikirkan semua ini sendirian. Ternyata begini rasanya jadi ibu. Apakah selama ini ibu juga memiliki tempat bercerita? Pernahkah ibu merasa 'senang' sebentar saja di waktu luangnya yang tersita hampir seluruhnya?

“Oh, Samu mau pergi ke sekolah???”

Aku tersadar dari lamunanku. Tsumu sudah kembali duduk, mata berairnya terlihat begitu senang saat menyadari aku sudah memakai kemeja putih dan celana abu-abuku. Ia selalu terlihat sesenang itu melihatku memakai seragam, membangunkanku agar kami bisa sarapan bersama dan mengikutiku sampai depan pintu yang mana aku langsung menendangnya masuk karena tidak ingin diikuti. Sering kali sepulang sekolah, aku melihatnya bercerita dengan senangnya kepada nenek Kita bahwa aku bersekolah di tempat impianku seolah itu juga adalah salah satu keinginan terbesarya.

Sekarang, ia masih nampak bersemangat seperti dulu.

“Jangan melupakan jasmu!” imbuhnya.

“Oh... Iya...”

Aku dengan canggung mengambil jas coklatku yang tergantung di pintu lemari, lalu memakainya sebelum memberi lapisan berupa mantel. Sama sekali tak punya hati untuk memberitahunya bahwa aku tak lagi menjadi saudara yang dibanggakannya.

“Hati-hati di jalan, Samu!” Ia melambai dengan tisu yang tersumpal pada sebelah lubang hidungnya. “Semoga Samu mendapatkan teman-teman yang menyenangkan!”

“Iya,” jawabku singkat, lalu memberi serangkaian pesan padanya. “Jangan nakal dan merepotkan orang lain. Kalau hidungmu terasa gatal dan penuh, langsung buang ingus. Pakai tisu! Lalu buang ke tempat sampah! Jangan lupa untuk rajin minum air putih! Dua jam lagi kau harus makan lalu minum obat yang tadi pagi-“

“Lagi???” selanya penuh kekecewaan akan fakta kalau ia harus menelan butiran obat dan bukannya sirup yang manis.

“Tentu saja, bodoh! Tulisannya diminum 3 kali sehari!”

“Argh, aku tidak suka!”

“Kau mau sembuh atau kupukul?!”

Barulah 15 menit yang penuh dengan perdebatan (yang berakhir karena aku berjanji akan membelikannya taiyaki sepulang nanti dan ia langsung mengiyakan perintahku), aku berhasil keluar dari kamar dan menutup pintunya erat.


Tidak sesuai dugaanku, mencari pekerjaan ternyata sulit. Kupikir aku akan mendapatkan setidaknya satu saja dengan modal belas kasihan. Banyak toko yang kulewati mempekerjakan orang-orang yang lebih besar dan karena merasa sudah cukup dengan itu, para tuan sepertinya tidak ingin mengeluarkan biaya lagi untuk membayarku.

Menjelang sore hari, aku sadar bahwa aku berjalan sangat jauh hingga sampai di dekat pantai. Aku memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang depan toko kelontong dengan sekotak susu yang baru kubeli. Perjalanan hari ini tidak membuahkan hasil, tetapi aku tak boleh menyerah. Osaka sangat luas dan belum semuanya kujelajahi.

Sambil menikmati susu yang mengalir ke perutku, mataku tak sengaja jatuh tepat terhadap sekumpulan pelajar yang berlarian melewatiku, melepas sepatu mereka, kemudian saling mengejar ke pantai hingga kaki telanjang mereka dipenuhi oleh pasir, tertawa bahagia dan ikut maju mundur mengikuti ombak yang berdatangan.

Mereka terlihat bahagia.

Bukankah, seharusnya aku juga menjadi salah satu di antara mereka?

Kenapa aku di sini?

Apa yang sebenarnya kulakukan?

“Jam segini, Kita-san pasti sudah membuka kunci ruang ganti voli,” gumamku pada diri sendiri. “Lalu Suna, Gin, dan Kosaku sudah menyiapkan sepatu mereka.”

Pemandangan akan para pelajar sebayaku yang bermain di pantai tertutupi oleh seorang kakek yang kepayahan menarik kereta kayu berisikan muatan perahu yang berlabuh di pantai. Aku buru-buru bangkit dan berlari, menahan gerobaknya yang hampir kembali mundur karena pria yang mungkin berusia 60-an itu tidak sanggup menariknya.

“Ah, terima kasih anak muda!” ucap kakek itu sambil kami bersama membawa muatan tersebut ke depan toko kelontong tempatku singgah yang ternyata juga dikelolanya. “Tangkapanku hari ini sangat banyak. Syukurlah! Dewi rupanya memang berpihak padaku!”

Aku hanya mengangguk dan melihat nenek toko rupanya sudah keluar untuk membuka kotak-kotak foam yang berada di luar. Rupanya mereka pengusaha ikan juga. Sepertinya bisnis mereka memang banyak dan berusia lanjut seperti ini mungkin akan membuat mereka kewalahan. Tampaknya merek sepasang orang tua yang baik dan tidak suka memerintah. Mendadak aku merasa percaya diri akan kesempatan yang bisa saja kudapat hari ini.

“Aku sudah bilang untuk tidak membawa semuanya sendiri!” omel nenek kepada sang suami. “Kau mau punggungmu patah dan tidak bisa ke laut lagi?”

“Dan buktinya aku masih sehat, kan? Pekerja yang kusewa beberapa hari lalu itu kasar, aku tidak suka,” balas kakek seraya terkekeh, lalu menepuk bahuku secara tiba-tiba. “Untung saja ada anak baik hati ini yang membantuku. Siapa namamu, Nak?”

“Miya Osamu,” jawabku.

“Ah, Osamu-kun. Terima kasih sudah membantu suamiku yang keras kepala ini.” Nenek tersenyum menimpali dan memberikan sekotak susu lagi padaku.

“Omong-omong…” Aku bertanya sembari menatap mereka. “Apakah kalian mungkin membutuhkan seorang asisten? Saya bisa melakukan pekerjaan kasar.”

“Aduh, kalau masih sekolah…” Kakek menelitiku dari atas ke bawah. “Nak, kau seharusnya bermain dengan teman-temanmu, kan?”

“Benar,” sahut nenek, balas menatapku seperti aku ini adalah cucunya yang jarang pulang dan sekalinya datang harus selalu dimanjakan. “Kami yang tidak tega melihatmu mengangkat beban berat. Lebih baik kami cari orang dewasa lagi.”

Jawaban mereka membuatku ingin menangis. Aku membungkuk dalam hingga keduanya terkesiap, tidak menyangka aku yang berpakaian seragam bagus, akan memohon sampai seperti ini demi mendapatkan sepeser uang.

“Saya sangat membutuhkan uang lebih,” ucapku, menahan air mataku yang nyaris keluar. Sesak sekali harus merendah seperti ini. “Saudara saya berkebutuhan khusus dan saya bertanggung jawab akan dia sepenuhnya.”

“Osamu-kun…”

“Saya- Janji tidak akan merepotkan! Saya janji akan bekerja sekeras mungkin agar tidak mengecewakan kalian!”

Dan atas beberapa pertimbangan (serta belas kasihan), aku berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Aku tidak tahu keputusan yang kuambil ini benar atau tidak karena kakek nelayan memintaku untuk datang besok subuh sedangkan aku, yang baru mempelajari tata letak Osaka, baru sampai ke kamar sewaan kami di malam hari.

Aku berlari dan tidak sempat menyapa bibi onigiri yang menawarkan dagangannya padaku, melompati beberapa anak tangga dan membuka pintu kamar kami dengan kekuatan berlebih. Tidak ada siapapun atau sesuatu mencurigakan selain sepiring onigiri yang salah satunya sudah digigit setengah dan buntalan selimut di atas futon.

“Tsumu!”

Tsumu rupanya sudah tertidur dan ia langsung terlonjak karena aku mengguncang buntalan selimut yang membungkus tubuhnya. Aku membuang napas lega karena mengiranya pingsan, bungkusan obat yang sudah disobek tercecer di sebelah kepala, menandakan ia meminum obatnya dengan benar.

“Hah? Ada apa??? Oh, Samu…” Tsumu membalas dengan wajah mengantuknya, lalu menguap. “Hoaaamm… Selamat datang, Samu… Kau habis main di pantai dengan teman barumu? Kau bau ikan…”

Oh, bagus. Suaranya sudah tidak sejelek tadi dan penciumannya mulai berfungsi kembali.

“Senangnya Samu kembali bersekolah…” Tsumu kembali berbaring dan tersenyum dalam melanjutkan tidurnya. “Aku senang… Samu sekolah…”

Ia senang.

Berarti aku tidak membuat keputusan yang salah.

Bertahanlah, Tsumu. Kita pasti akan terbiasa dengan kehidupan ini.

Aku pasti akan terbiasa.

Miya Atsumu sering kali dikatakan 'sedikit tidak pintar' dibandingkan Miya Osamu, yaitu aku. Tetapi sebagai keluarganya, aku mengakui bahwa ia adalah anak paling pekerja keras yang tidak akan pernah mereka temui di luar sana.

Aku sendiri tidak mengerti mengapa orang-orang berkata aku lebih pintar dibandingkan Tsumu, padahal aku tidak pernah merasa begitu. Tsumu sangat suka belajar. Ia suka mengoceh tentang hal-hal yang baru dipelajarinya, contoh: “Kau tahu, Samu? Di luar angkasa sangatlah sunyi. Mungkin aku bisa memanggilmu dari bulan!” atau “Kau tahu, Samu? Kita bisa melihat komet Halley setelah menjadi kakek!” dan masih banyak lagi.

Meski ia sering mengatakan bahwa astronomi sangatlah susah dan lebih milih mengarungi langit di bawah atmosfer, ia sungguh tertarik dengan luar angkasa. Pengetahuannya serta kemampuannya untuk memahami semua itu dari berbagai sumberlah yang membuatku merasa, ia sebenarnya jauh lebih pintar dariku.

“Samu, kau mungkin harus sedikit melihat ke depan! Jalan tidak semuanya berlubang!” Ia yang mengajariku cara menaiki sepeda roda dua dengan terus memegangiku dari belakang.

“Samu, kau bisa membuat pesawat kertas dengan berbagai cara!” Ia yang pertama kali mengajariku menggunakan metode lebih sederhana saat aku lelah menerbangkan pesawatku yang selalu gagal.

“Samu, kau tidak harus mengisi rotimu dengan krim!” Ia yang pertama kali memberiku roti dengan isian yakisoba dan walau ibu berdecak heran dibuatnya, aku ternyata juga menyukai rasa baru itu.

“Samu, kau tahu kan, kau selalu bisa menerima bola dengan kesepuluh jarimu?” Ia yang pada dasarnya tertarik dengan segala hal, mengajariku yang takut bol mengenai wajahku saat pelajaran olahraga.

Tsumu selalu mengenalkanku pada hal baru dan tidak pernah gagal membuatku menyukai apa yang ia sukai. Naik sepeda, membuat pesawat kertas, mencoba makanan aneh, dan bermain voli tidak lagi terasa menakutkan karenanya. Seperti ia selalu ingin aku berada di dunianya.

Dia adalah kakak yang sangat kubanggakan dulunya. Saat orang-orang meremehkannya, aku selalu tidak terima meski tidak pernah benar-benar membelanya di depan muka. Pernah sekali aku dipanggil kepala sekolah dan ibu benar-benar marah karena aku memukul anak yang merobek pesawat kertas Tsumu.

Sejak ayah menghantam kepala dan tengkuk Tsumu dengan balok kayu, aku berhenti bangga kepada kakakku.

Padahal, Tsumu mungkin satu-satunya anak berusia 15 tahun yang bekerja jauh lebih keras untuk menulis namanya sendiri di saat anak usia 3 tahun lainnya lebih memilih makan semangka dan berbaring di depan kipas angin.

“Samu, kau tidak ingin berbaring?”

Aku terlepas dari kenangan yang tiba-tiba saja memasuki benakku. Tsumu sudah berbaring dengan senyum lebar di atas futon yang baru saja kukebas debunya. Hidungnya merah dan suaranya serak, belum lagi ia yang terus buang ingus. Bisa gawat jika ia sakit karena kami harus benar-benar menghemat uang setelah mengeluarkan uang 5 ribu yen untuk kamar ini.

Bibi onigiri menyambut kami dengan ramah, walau sempat menanyakan hal-hal seperti kenapa anak di bawah umur seperti kami datang dengan banyak uang kertas lecek dan tas besar. Aku terpaksa berbohong dengan mengatakan ingin berlibur di Osaka dan untung saja ia tak menyampaikan kecurigaannya lebih lanjut.

Kamar yang sangat sederhana memang. Ada dua futon yang besarnya memenuhi lebih dari separuh ruangani ini (dan aku bersyukur mereka memiliki selimut yang sangat tebal pula karena penghangat kamar rusak dan bibi belum memanggil tukang servis, perabot dapur, lemari dan sebuah meja lipat sementara kamar mandi berada di lantai bawah untuk dipakai bersama.

Sejak ibu tidak ada, nenek Kita selalu membawakan kami lauk dan sayur. Kadang juga beras dan bahan mentah untuk persediaan. Tapi untuk saat ini, aku belum tahu harus belanja di mana, bertahan sampai kapan bahan-bahan itu, jadi yang bisa kupikirkan adalah: beberapa hari ke depan kami akan makan mi instan.

“Samuuu!~”

Nada Tsumu terdengar merengek, ia sangat suka menggangguku yang sedang melamun. Gayanya seperti ingin main denganku meski aku baru saja memukulnya karena isi tasnya kebanyakan adalah buku tidak penting dan bukannya pakaian, membuatku suatu saat harus berbagi pakaianku lagi dengannya. Aku heran, apa dia memang tidak pernah memiliki rasa benci padaku? Bagaimana bisa ia masih mempedulikan bajingan yang terkapar di rumah kami?

Aku masih diam. Kepalaku sangat sakit. Suasana yang hening saat ini membuatku ikut merasakan bahwa perutku sangat pedih. Aku tidak boleh sakit. Sekali lagi berharap bahwa pikiran seperti itu dapat membuat kami tetap sehat agar dapat bertahan hidup di kota yang hany berjarak beberapa kilometer dari rumah kami.

“Samu, apa kau tidak suka tidur denganku?” Tsumu menyuarakan isi kepalanya lagi. “Aku bisa tidur di luar!”

“Jangan bodoh,” ujarku seraya duduk lebih dekat dengannya dan menatapnya lurus. “Dengarkan aku, Tsumu.”

“Samu, kenapa kita tidak pulang?”

“Dengarkan aku dulu!”

Aku memegangi pundaknya dan memaksanya untuk duduk, berusaha semampuku untuk berkata-kata seperti yang biasa ibu lakukan. Tsumu mungkin masih terlambat 10 tahun darimu, karena itu cobalah mengerti keadaannya. Keterangan yang sudah sangat jelas itu selalu ibu utarakan tiap kali aku kesal pada Tsumu.

Nyatanya, aku tidak akan pernah sesabar ibu. Sabar adalah sesuatu yang tidak bisa semua manusia lakukan. Tetapi setidaknya untuk saat ini, aku ingin mencobanya.

“Ini rumah kita, Tsumu,” ucapku, masih menatap matanya yang nampak berkaca-kaca entah karena mengantuk, flu, atau ingin menangis. “Sekarang kita tinggal di sini.”

“Selamanya???”

“Aku tidak tahu-”

“Tapi bagaimana dengan nenek Kita??? Dan Shin-chan??? Dan teman-teman Samu???”

Aku tanpa sadar menggigit bibir saat satu per satu orang penting dalam hidupku – dan Tsumu – disebut satu per satu. Aku meninggalkan mereka tanpa sempat berpamitan, meminta maaf maupun mengucapkan terima kasih. Orang-orang yang memanusiakan kami itu mungkin sekarang sudah berpikir bahwa kami adalah kriminal.

“Kita akan mengunjungi mereka kapan-kapan.” Mataku memanas, tapi sebisa mungkin aku tidak ingin membuat Tsumu menangis karena itu sangat merepotkan. “Karena kita tinggal di tempat baru, bersikaplah dengan baik. Kau... Bisa melakukannya, kan?”

Tsumu tidak menjawab. Ia menunduk dan bahunya bergetar, mungkin sebenarnya ia mampu merenungkan hal seperti ini.

“Kau bisa kan, menurut padaku?” tanyaku lagi sembari mengguncang tubuhnya, mendesaknya untuk mengiyakan karena sedikit saja aku mungkin bisa gila. “Bisa kan, melupakan yang terjadi kemarin? K-kau pasti bisa melakukannya, kan?”

“Apa kita jahat, Samu?” Ia mendongak dengan ekspresi sedihnya. “Kita meninggalkan ayah-”

“Dia tidak menyayangi kita, Tsumu! Kau jadi begini itu karenanya!” bentakku. “Sudah kubilang, kau jangan peduli padanya! Kalau kau memang mau tinggal denganku, maka lakukan apa yang kukatakan!”

Aku menghembuskan nafas panjang, menariknya kembali, lalu kembali menghembuskannya demi kestabilan emosiku saat ini. Tsumu terlambat 10 tahun, kata ibu. Tsumu terlambat 10 tahun. Tsumu terlambat 10 tahun. Aku terus merapalkannya dalam hati dan tidak mewajarkan diriku yang meledak barusan.

“Keadaan sudah berubah, Tsumu,” ucapku sedikit lebih tenang. “Kita tidak bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Saat ini, Tsumu hanya punya Samu.”

“Tsumu hanya punya Samu...” Ia mengulang dengan pelan.

“Karena itu, aku memintamu, jangan pernah peduli dengan orang jahat. Lawanlah mereka dengan seluruh kekuatanmu sekalipun itu terasa salah. Aku tahu ibu meminta kita untuk selalu memaafkan, tapi dunia ini terlalu jahat untukmu, Tsumu. Pikirkan tentang bagaimana ibu yang ingin kita saling menjaga dan ini adalah caraku agar kita bisa tetap selamat. Mengerti?”

“Samu...”

“Apa?”

“Apa hanya Tsumu yang Samu miliki?”

Nafasku tercekat. Materipun tidak cukup, orang-orang yang kusayangi juga sudah tidak ada. Aku tidak bisa terus terbayang dengan apa yang ada di belakangku. Semuanya baru terjadi kemarin tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun aku menderita tanpa mereka.

“Aku hanya punya Tsumu,” jawabku.

“Apa Samu akan bahagia meski hanya punya Tsumu?”

Entahlah. Aku belum memikirkannya. Bahagia adalah kata yang besar dan tidak kuketahui dengan pasti kebenaranya. Aku tidak tahu apakah aku bahagia saat naik sepeda untuk pertama kali. Aku tidak tahu apakah aku bahagia sebelum ayah memukul Tsumu dan membuatnya kembali mengulang pertumbuhannya. Aku tidak tahu apakah aku bahagia saat masuk SMA dan bertemu teman-teman yang menyenangkan. Aku sungguh tidak tahu.

“Iya.”

Satu kata meluncur dari mulutku setelah beberapa detik Tsumu menanyakannya.

Ia memprosesnya sejenak, lalu tersenyum dan menimpali, “Asal Samu bahagia, jadi orang jahat tidak masalah!”

Di usia 10 tahun, Tsumu memulai semuanya dari awal.

Belajar menggerakkan anggota tubuhnya, berbicara, memegang sumpit guna menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, berjalan, dan semua hal-hal yang dilakukan oleh bayi yang sedang bertumbuh.

Ibu sangat menderita, tetapi ia membantu Tsumu dengan penuh kasih sayang. Meladeni nakal dan rewelnya di saat anak SMP seharusnya sudah lebih dari mampu untuk mengontrol ego mereka. Bersorak paling kencang saat Tsumu berhasil menopang tubuh dengan kedua kaki tanpa berpegangan pada tembok ataupun tongkat kruk. Tidak peduli berapa banyak mangkuk yang pecah dan sumpit yang melayang ke kepala ibu, beliau akan selalu menganggap Tsumu seperti balitanya.

Perhatian ibu padaku menjadi terkikis hampir seluruhnya. Kami tidak sempat mengobrol lebih jauh tentang diriku. Akupun tidak perlu tahu apa yang terjadi di rumah karena hari-hari ibu selalu diisi dengan bekerja sambil merawat Tsumu. Aku menandatangani sendiri surat-surat dari sekolah yang membutuhkan persetujuan orang tua, mencuci pakaian dan piring makanku sendiri, dan membersihkan kamar kami berdua yang terkadang bau ompol kakak kembarku yang tidak bisa apa-apa itu.

Aku sering menyalahkan sikap dinginku kepada ibu. Beliau juga ingin tahu bagaimana hari-hariku di sekolah. Apakah aku mengikuti ekskul yang kusenangi? Apakah pelajarannya sulit? Apakah aku memiliki banyak teman? Kujawab semua pertanyaan sama yang diajukannya tiap makan malam dengan jawaban yang serupa pula. Ya. Ya. Tidak juga. Kadang bervariasi, tergantung suasana hatiku saat itu.

Ibu sangat menderita, tetapi ia selalu memastikanku membawa buku-buku pelajaranku dengan lengkap. Merapikan kembali seragam voliku ketika aku berniat membuangnya setelah kekalahan yang kebanyakan disebabkan oleh diriku yang kurang fokus. Membuatkan onigiri favoritku dengan harapan perasaanku menjadi lebih baik tiap kali aku bertengkar dengan Tsumu. Walau ibu tidak pernah datang di pertandingan voli, acara Hari Ibu, hingga kelulusan, aku tetap menyayanginya.

Mungkin kalau aku sedikit meredam egoku dengan lebih bersabar pada Tsumu, aku bisa membuat ibu bahagia. Mungkin ibu bisa mati dengan lebih tenang dan bukan terkuras mentalnya karena kami berdua. Mungkin kalau aku dan Tsumu menjadi anak yang baik...

Tidak. Kami takkan bisa menjadi anak yang baik. Tidak bagi ibu, ataupun nenek Kita.

Suara berisik peralatan masak yang beradu membuatku duduk tegak dengan mata terbelalak. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar tidur semalaman karena terlalu banyak hal yang ada di kepalaku dan tidak tahu harus fokus memikirkan yang mana dulu. Aku menoleh ke samping, Tsumu masih tidur pulas dengan liur dan ingus yang menetes.

Saat ini kami sedang berada di Osaka, tepatnya di rumah kakak tertua ibu, paman Riseki. Kami datang malam-malam tanpa pemberitahuan dan tidak heran jika kami harus tidur di ruang tamu karena kamar lebih yang mereka punya sudah dialokasikan menjadi gudang.

Sepupu kami, Heisuke, masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia sangat ceria dan menyambut kami dengan senang, menanyakan banyak hal mengenai Hyogo dan aku berusaha sangat keras agar Tsumu tetap diam sementara aku yang akan menjawabnya. Tidak mungkin kami menceritakan apa yang terjadi, bukan?

Heisuke juga memiliki kesukaan yang sama denganku, bermain voli. Malah dia berkata , Aku bermain voli karena kalian dan itu menumbuhkan kembali kenangan lama yang sudah terkubur jauh dalam ingatanku. Aku dan Tsumu dulunya memang sering bermain bersama, tentu sebelum insiden yang melumpuhkannya terjadi.

“Selamat siang!” sapa bibi Riseki saat melihatku menghampirinya di dapur. “Kau tidur dengan baik. Paman sudah berangkat kerja, Heisuke juga pergi sangat pagi untuk latihan dan sekolah. Anak itu berjuang sangat keras untuk bisa masuk ke Inarizaki sepertimu, kau tahu?”

“Oh, begitu...” Perutku keroncongan. Katsu yang baru digoreng itu terlihat sangat enak. “Aku cuci muka dulu.”

Sampai sekarang aku masih tidak tahu bagaimana menerangkan situasi kami kepada keluarga Heisuke. Mereka tidak terlihat curiga sama sekali, yang mana adalah hal bagus.

Kami kabur setelah membunuh ayah, sama sekali bukan kata pengantar yang baik.

Kami cuma ingin main, nah, kalau seperti itu berarti hari ini kami harus pulang (mencari tempat lain untuk bermalam karena rumahpun kami tidak punya).

Aku menatap wajahku yang sama sekali tidak bisa dibilang segar meski telah kubilas dengan busa dan air dingin. Garis hitam menghiasi bagian bawah mataku. Aku sungguh tampak mengerikan dan tidak seperti Tsumu, dia tidak terlihat seperti memikirkan bahwa dirinya baru saja melakukan hal kriminal kepada orang tua sendiri.

Saat aku keluar dari kamar mandi, samar-samar aku mendengar bibi Reisuke mengobrol dengan Tsumu. Oh, dia sudah bangun dan langsung makan. Hebat sekali.

“Atsumu sekarang tidak sekolah, ya?”

“Uhm... Harusnya aku kelas 1 dengan Samu! Tapi aku masih belajar supaya bisa sekelas dengannya!”

“Di Inarizaki? Haha, itu tidak mungkin!”

Aku menghentikan kakiku. Jarak dengan dapur hanyalah beberapa langkah, tapi tidak ada satupun dari mereka berdua yang menyadariku menguping pembicaraan mereka.

“Kenapa tidak mungkin?” Tsumu terlihat kebingungan, meski ia tetap tersenyum lebar penuh optimis. Seolah ia tak tahu apa arti direndahkan. “Aku dan Samu seumuran, tentu saja kami akan sekelas.”

“Atsumu, Inarizaki itu kan, isinya orang-orang yang berkualitas. Mau kau berjuang sekeras apapun, paling-paling kau akan dimasukkan kelas khusus, bukankah begitu?”

“Oh...” Bibir Tsumu mengerucut, pipinya masih penuh dengan ebi furai, lalu kembali memasang wajah ceria. “Tidak apa-apa! Di rumah aku masih belajar dengan Samu, kok!”

“Ah, iya... Rumah memang tempat yang cocok untukmu belajar. Omong-omong soal itu, kalian tidak khawatir rumah ibu akan berdebu karena ditinggalkan lama-lama? Ibu kalian kan-”

Aku tidak tahan lagi. Berusaha untuk menyembunyikan tanganku yang terkepal, aku menggunakan tangan yang satu lagi untuk menarik Tsumu yang hendak mencomot sepotong gorengan lagi.

“Kami pulang sekarang,” ujarku dan kuharap aku sama sekali tak terdengar seperti akan mengumpat. “Tsumu, pakai mantel dan syalmu!”

“Samu tidak makan dulu?” tanya Tsumu dengan polosnya, heran melihatku yang sudah berkemas lagi. “Bibi membuat katsu yang enak!”

“Atsumu benar!” timpal bibi Riseki dengan senyum yang sangat terlihat palsu di mataku saat ini. “Kau belum makan sejak kemarin sementara saudaramu sudah menghabiskan banyak nasi. Setidaknya isilah perutmu juga.”

“Aku tidak lapar.” Aku mengenakan ranselku, membetulkan syal Tsumu yang menutupi wajahnya, lalu menarik lengannya untuk mengajaknya membungkuk bersama. “Terima kasih untuk tumpangannya. Kami permisi dulu.”

Bibi Riseki masih menahan kami dan memberikan dua lembar uang 1000 yen, entah karena kasihan atau sebagai tanda perpisahan untuk kami tak datang lagi dan Tsumu dengan senang menerimanya.

Aku berjalan tanpa arah, masih memegang Tsumu dengan erat seperti kemarin agar dia tidak hilang dan akhirnya berhenti di sebuah taman saat perutku sudah tidak tahan lagi.

“WOAH!!!”

Tetapi Tsumu yang terlepas dari genggamanku langsung berlari, membuatku yang kelelahan harus mengejarnya yang menepi ke sebuah stall es krim di seberang taman.

“BODOH-”

“Samu! Es krim!” Tsumu memotong pembicaraanku dan menunjuk dengan semangat pada gerobak di depan yang menampilkan berbagai rasa es krim.

“Kita tidak sedang jalan-jalan, Tsumu!” protesku dan bermaksud menariknya lagi.

“Ah, satu saja! Satuuu!!!”

“Tidak!”

“Satuuu!!!”

“Kalian menggemaskan sekali.” Kami berdua menoleh kepada penjual es krim yang kami abaikan sejenak dalam perdebatan. Perempuan dengan rambut dikepang ke belakang itu tersenyum manis ke arahku lalu berkata, “Aku bisa berikan bonus kalau kau mengabulkan permintaan adik kembarmu!”

Kebalikannya malah. Aku, yang harus menuruti permintaan memalukan dari kakak kembarku.

Dan akhirnya kami mendapat dua kerucut es krim; Tsumu dengan rasa vanilla dan stroberi untukku. Ia sangat menikmatinya, aku tahu itu. Mungkin aku memang harus seperti itu juga. Krim manis itu terasa sangat dingin di lidahku dan secara ajaib membuat mataku kembali cerah.

Ah... Es krim pertama kami setelah membunuh ayah.

“Hehe.”

Tsumu tertawa konyol sembari menatapku, membuatku mendengus kesal karena ia telah menjebakku di situasi memalukan ini.

“Puas?” gerutuku. “Lain kali jangan seperti ini! Kita benar-benar harus menghemat uang!”

“Samu akhirnya tersenyum!”

“Hah?”

Ia menunjuk es krim di tanganku yang masih nyaris utuh, sementara miliknya sudah hampir habis.

“Kata nenek Kita, es krim adalah makanan ajaib,” terangnya, masih dengan wajah bodohnya yang terlihat senang. “Samu sangat tegang sejak kemarin. Karena itu aku mengajakmu beli es krim dan benar! Samu tersenyum lagi!”

Oh, ya? Aku sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan, aku tak mengingat kapan aku benar-benar tersenyum sampai orang lain harus memberitahuku kalau aku baru saja tersenyum.

Baiklah. Ini bukan hal penting untuk dipikirkan karena... Sekarang kami harus ke mana?

Tsumu terlihat sangat menikmati es krimnya yang sudah habis, bahkan sampai menjilati tangannya yang terkena lelehan krim. Dia pasti berpikir kalau kami sedang jalan-jalan ke Osaka dan akan segera ke stasiun untuk pulang ke rumah kami di mana ada mayat di sana dan mungkin saja sudah dipagari oleh garis kuning polisi.

Mungkin aku bisa mengatakan… Kami adalah buronan sekarang.

“Hey, Samu.”

Kami tidak punya tempat tinggal dan kemanapun itu, kami harus selalu berlari menjauh.

“Samu.”

“Apa?” Aku membalas dengan lemas, kepalaku benar-benar sakit memikirkan semua ini sendiri.

“Samu tidak sekolah?” tanya Tsumu dengan nada polosnya dan alih-alih merasa marah, aku justru bersedih.

“Hari ini libur.” Dan saking sedihnya, aku tidak punya tenaga untuk mengatainya bodoh, memutuskan untuk berbohong seperti bagaimana ibu selalu menutupi semua masalahnya demi menjaga kami.

“Begitu, ya?” Tsumu mengangguk-angguk. “Lalu… Ayah bagaimana? Kita meninggalkannya seperti itu, bukankah seharusnya kita telepon rumah sakit?”

“Ayah sudah tidak bernafas, Tsumu.”

“Ayah… Pergi ke tempat yang lebih baik?”

“Tidak!” sahutku. “Ia pergi jauh ke tempat yang lebih buruk.”

“Kenapa?”

“Karena ia jahat kepada kita.” Aku menerangkan seolah itu hal yang paling buram dan sulit dimengerti oleh anak seusia kami. “Dia tidak pantas kau sebut ‘ayah’. Ia menyakiti kita dan ibu, ia merampas kebahagiaan kita. Karenanya, biarkan saja ia mati seperti itu.”

“Begitu, ya?” Tsumu mengulanginya lagi. “Tapi ibu pernah mengatakan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.”

“Sekarang berbeda, Tsumu.”

“Kenapa?”

Aku tidak ingin menjawabnya. Di sela kejenuhanku, mataku menangkap sebuah kedai onigiri yang berada beberapa meter dari tempat kami duduk saat ini. Aku hampir saja terfokus kepada bibi dan anak kecil yang tengah sibuk mengepal onigiri, sampai ekor mataku kembali membawa atensiku kepada palang yang terdapat di atas kedai tersebut.

Sewa kamar untuk pelajar.

“Ayo, Tsumu!”

Sore yang cerah di Bikini Bottom.

Pulang kerja menemani suami cari es krim sambil mengawasi Kenma dan 3 anak kucing kepunyaan orang lain.

Ini pertama kali Tetsurou melihat Kenma berinteraksi dengan teman-teman yang bukan tetangga. Ya... Biasanya dia memang selalu lebih telat menjemput karena harus ke Karasuno dulu, jadi sesampai di sekolah selalu hanya Kenma yang tersisa.

Untung saja hari ini Keiji dan Tooru sudah menjemput anak mereka masing-masing, jadi Tetsurou bisa fokus quality time bersama keluarga — dan 3 anak kucing lainnya.

Sore begini, taman jadi ramai akan festival musim panas. Banyak penjual alat melukis, es, taiyaki, buku, dan pemancingan koi.

Tapi es krim yang dicari Kei tidak ada. Taketora ingin memancing. Shohei mau taiyaki. Yuuki sudah tenggelam di balik kanvas.

Sementara Kenma... Dia yang tidak suka keramaian sudah nyaman bermalas-malasan di gendongan Kei. Tetsurou kan, juga mau!

“UNCLE, AYO KITA MANCING!!!”

“Eh, eh, satu-satu dulu, ya!”

Tetsurou panik saat celananya ditarik dengan brutal oleh Taketora dan Shohei ke arah berlawanan, sementara matanya masih fokus ke arah Yuuki, takut-takut kalo dia kedip sekali saja anak itu sudah hilang.

“Emangnya Tora ga laper?” tanya Shohei. “Dari tadi Tora berisik. Kaya Mama, kalo berisik berarti laper.”

“LAPER!!!” Tora menepuk keras perutnya yang bundar. “MAKANYA MANCING, HABIS ITU KITA MAKAN IKANNYA!!!”

“NGAWUUUURRRR?!!” sela Tetsurou lalu mengangkat dua bocah itu seperti kucing. “Kalo mau makan ikan sungguhan, bukan di tempat pancingan!!!”

“Taiyaki! Ikan manis!”

“BUKAN JUGA!!! Ikan yang kaya gitu ga mengandung docosahexaenoic acid yang berguna buat otak kalian, lho!”

Tora dan Shohei melongo mendengar istilah tersebut.

“Doc...”

“Docosahexaenoic acid!” ulang Tetsurou bangga karena akhirnya didengarkan.

“Dokter...” / “Asin...” Keduanya sudah mencoba yang terbaik.

“Docosashdgshshhoaaam...” Kenma yang mengantuk di bahu Kei ternyata juga ikut menyimak.

Tetsurou menghela nafas. Perutnya jadi ikut keroncongan membayangkan makan makarel bakar.

“Yang, mau makan ikan?” tanya Tetsurou, dengan tangan yang masih menenteng Tora dan Shohei.

“Engga, deh.” Kei mengipasi wajahnya yang kepanasan. “Aku duduk di sini aja sama Kenma dan Yuuki.”

“Oh, oke. Nanti aku cariin es krim, ya?”

“Iyaaa!”

“Kamu sama Kenma di—”

“Tetsu!” sela Kei. “It's okay! We'll be fine!”

Dari kejauhanpun Kei masih bisa mendengar Tetsurou berdebat dengan dua anak kucing itu mengenai zat-zat yang sama sekali tidak ia mengerti.

Di rumah juga Tetsurou sering mengajari Kenma, yang masih 5 tahun itu, mengenai betakaroten yang terkandung dalam wortel supaya anak itu tidak minus matanya seperti Kei.

Ya, Kei tidak tersinggung, sih. Toh, suaminya memberikan contoh nyata dan dia cuma bisa pasrah.

“Kenma ga mau ngelukis sama Yuuki?” tanya Kei. “Tuh, Yuuki gambar Pony warna-warni!”

“Males...” sahut Kenma.

Ia reflek tersenyum saat sebelah tangannya yang tidak menggendong Kenma, ia gunakan untuk merekam Yuuki yang tengah serius menggambar di kanvas sampai wajahnya ikut kena cat air. Gemas, nanti mau dia kirimkan ke Chikara kalau ingat.

Tapi cuaca saat ini panas sekali, didukung dengan taman yang semakin ramai. Saking panasnya, Kenma sampai minta rambutnya yang mulai panjang itu dikuncir. Kei jadi sebal lagi karena es krim stroberi dan wafel yang dia cari ternyata tidak dijual di sana.

“Kenma, Mama mau ngelap kacamata dulu, ya.”

Kei menurunkan Kenma dan mendudukkannya di samping Yuuki. Dia melepas kacamata dan mengeluarkan kain lap, mengelapnya sebentar, lalu mengambil saputangan untuk mengelap keringatnya. Mau ngomel kepanasan, tapi masih ada anak-anak.

“Uncle! Udah!” Yuuki menunjukkan dua lembar kanvas yang penuh coretan gambar kuda dan babi. “Yang Peppa buat Nii-chan!”

“Wah, lucunya. Jaga baik-baik, ya!” komentar Kei dan saat memakai kacamatanya, ia menyadari ada yang salah.

Kenma tidak ada.

“Eh??!” Kei sontak berdiri. “Yuuki liat Kenma???”

“E-Engga...” Yuuki yang tadinya ceria, seketika berubah panik. “Yuuki ga merhatiin...”

“Bukan salah Yuuki, ya~”

Di tengah kepanikannya, Kei berusaha menenangkan, lalu menggandeng tangan anak itu supaya tidak ikut hilang.

“KENMA!!!” seru Kei di tengah keramaian.

Yuuki juga ikut memanggil. Anak itu bahkan sudah mau menangis. Kei makin cemas memikirkan harus berkata apa ke Tetsurou nanti meski belum ada lima menit mereka mencari.

“Uncle!”

Sampai akhirnya Yuuki menarik tangannya dan menunjuk ke arah bocah berseragam kotak-kotak merah dan rambutnya dikuncir ke belakang sedang berdiri di depan kios es serut.

“KENMA!!!”

Kei menghampiri Kenma dan memeluk erat anak itu, tidak lupa Yuuki yang sudah menangis takut.

“HUAAA KYANMAAAAA”

“Kenma ngga boleh tiba-tiba pergi tanpa bilang Mama, ya!” Kei masih merinding membayangkan tidak bisa melihat Kenma lagi. “Mama sama Yuuki cariin Kenma dari tadi!!!”

“Ya ampun...” Bapak es serut yang melihat drama reuni itu sampai ikut meneteskan air mata haru, lalu berjongkok memberikan segelas kudapan dingin. “Nih, es buat mamanya!”

Kenma tersenyum dan lantas mengoper es serut dengan buah jeruk itu untuk Kei.

“Kenma liat Mama kepanasan, jadi Kenma cari es,” terang Kenma malu-malu. “Tapi yang stroberi engga ada, terus karna Kenma inget Shoyo, jadi Kenma beli yang jeruk. Kenma pake uang jajan, lho!”

Kei terharu walau dia tidak tahu hubungannya Shoyo dengan dirinya sampai dibelikan yang jeruk.

Yang jelas, dia terharu banget anaknya ternyata memikirkan Mama juga :')

Miya Atsumu kebetulan lahir 5 menit sebelum aku, membuatnya mendapat status sebagai kakak kembarku.

Berdasarkan penilaian orang-orang, ia tidak lebih pintar dariku. Secara fisikpun, masih lebih kuat aku yang adalah adiknya. Karena itu ia jauh lebih gigih dan bersemangat untuk mempelajari hal-hal yang baru. Cita-citaku menjadi pilot, begitu yang ia katakan pada kelas menggambar taman kanak-kanak di saat aku memikirkan akan beli berapa takoyaki sepulang sekolah nanti.

Atsumu juga menyukai hal-hal berbau astronomi dan ia sedikit lebih kesulitan menghapal nama-nama tersebut. Hal itu membuatnya lebih memilih pilot ketimbang astronot meski menurutku keduanya sama-sama sulit. Tetapi ia selalu berusaha keras. Terkadang kamar kami akan penuh dengan puluhan pesawat kertas dan aku akan memarahinya kalau ia menimbun sampah-sampah itu di atas tempat tidurku.

Hingga kini, dia masih membuatnya. Aku lupa membeli persediaan kertas lipat, seperti yang selalu kubeli tiap pulang sekolah. Jadi, aku sudah tidak kaget ketika melihat ada pesawat kertas dari koran, majalah atau bahkan brosur supermarket yang beterbangan di dalam rumah dan akhirnya salah satu berhasil masuk ke pintu kamarku yang terbuka, tepat ke atas kepalaku.

Aku mendengus dan bermaksud melempar balik pesawat itu kalau saja tidak memperhatikan sesuatu di balik lipatan kertasny yang terbuka.

Osamu, ayo kita makan es krim!

Pesan dari dia tertulis dengan sedikit rapi – ia berjuang memperbaiki tulisannya yang lebih jelek dari balita – dan dibubuhi dengan karikatur tersenyum.

Selalu begitu. Bahkan setelah pertengkaran kemarin, si bodoh itu masih akan bersikap seolah tak terjadi apapun dan sama sekali tak menyimpan dendam.

Aku bermaksud untuk membalas pesan tersebut dengan bicara, tapi ternyata tenggorokanku sakit, entah efek berteriak kemarin atau demam saat ini. Karena itu aku memaksa tubuhku untuk bangkit dan mengambil buku tulis di atas meja, menuliskan, 'Masih sakit.' melipatnya hingga membentuk pesawat kertas paling sederhana dan jauh lebih jelek dari milikna, lalu melemparnya keluar. Berharap pesan itu sampai padanya.

Kemudian aku mendengar suara kertas yang dilipat-lipat, menandakan ia sedang membuat pesawat yang baru. Dari asal suaranya, sepertinya dia sedang ada di dapur, tepatnya di meja makan. Mungkin baru saja menghabiskan sup miso yang diantarkan nenek Kita. Dan benar saja, tidak lama kemudian, pesawat itu sampai dan kali ini menarat tepat di atas tempat tidurku.

Samu sudah tidak marah padaku

Tidak ada tanda baca setelahnya, terasa menggantung. Aku akan menganggap dia sedang tidak bertanya, melainkan menyatakan bahwa dengan aku yang membalas pesannya, adalah pertanda suasana hatiku sudah baik. Aku lalu menyobek selembar kertas lagi. Jujur, sudah lama kami tidak mengobrol setenang ini meski hanya melalui surat-menyurat yang konyol. Keseharian kami selalu dipenuhi oleh dia yang mengganggu, aku yang marah, lalu ibu yang melerai dan akhirnya menjadi perantara pesan bagi kami berdua.

Tapi sekarang hanya ada kami berdua. Perkataan Kita masih terngiang dengan jelas di benakku. Aku masih punya orang-orang, tapi benar, Atsumu hanya punya diriku seorang.

Aku memukulmu terlalu keras, ya, tulisku sebelum membuat pesawat baru dan menerbangkannya ke luar.

Sedikit lebih lama dari yang tadi, pesawat berikutnya sampai dan mendarat menabrak dinding, karena itu aku harus sedikit berupaya untuk menggapainya.

Tidak apa-apa, Samu. Maaf karena aku hidup lebih lama dari ibu.

Kalimat kedua terdengar tidak masuk akal dan juga salah berapa kalipun aku membacanya karena, pertama, jelas ibu hidup lebih lama dari kita semua. Dan kedua, hatiku begitu sakit dibuatnya. Aku yang brengsek, tetapi dia yang meminta maaf.

Karena itu aku membalasnya dengan, Terima kasih sudah melindungiku dari perempuan yang bukan ibu.

Dia tertawa saat menerimanya, sepertinya sangat senang karena kata-kata tersebut. Karena aku tidak ingin buang-buang kertas lagi, akupun memutuskan untuk keluar dan makan sup miso yang semoga saja tidak ia habiskan sendirian.

Sekilas aku melihat Atsumu yang berlari dari dapur menuju kamar ibu, bersembunyi di balik pintu dengan wajah ketakutannya setiap kali aku melemparkan silent treatment kepadanya. Kalau itu Atsumu yang berusia 7 tahun, aku mungkin akan menganggapnya lucu.

“Apa?” tanyaku, berusaha terlihat sesantai mungkin dengan mengambil gumpalan-gumpalan kertas yang bercecer di lantai, meja makan, dan counter.

Mangkuk terbalik yang ada di pinggir wastafel dan air menetes dari atasnya menandakan dia baru saja makan, bahkan mencuci peralatannya sendiri. Kan? Dia sebenarnya tidak sebodoh itu.

“Samu sudah tidak marah?” Ia balas bertanya, masih sambil bersembunyi di balik pintu dan hanya menampakkan kepalanya.

“Memangnya kapan aku tidak marah padamu?” balasku. “Kemarilah.”

“Tidak! Kau akan memukulku!”

“Aish, aku takkan membelikanmu es krim kalau kau-“

“AKU MAU ES KRIM!!!”

Mendengar kata kunci tersebut, tanpa berpikir panjang ia beranjak keluar dan berdiri tepat di hadapanku. Aku bersedekap sambil mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia nampak sangat sehat meski suaranya parau dan hidungnya merah karena terlalu sering membuang ingus. Bekas pukulanku terlihat membiru di ujung dagunya. Konyol sekali karena kami sekarang memakai piyama dengan warna yang sama dan plester demam sama-sama masih tertempel di dahi kami.

Aku menghela nafas dan mencabut plester tersebut, menghasilkan teriakan ‘SAKIIIT’ yang teramat sangat berlebihan, lalu menyumpal mulutnya dengan acar plum yang kuambil dari dalam toples kiriman nenek Kita.

Kenapa aku begitu jahat padanya?


Terkadang kekhawatiranku memang menuntunku ke kenyataan.

Saat orang-orang melihatku dengan tatapan geli dan cemooh, aku sudah menyiapkannya. Karena itu aku menunduk dan duduk di kursiku, tidak begitu mempedulikan Suna yang mengajakku ngobrol santai dan menanyakan keadaanku.

Itu anak yang mencampakkan Runa, begitu yang kudengar. Setidaknya, tidak ada yang menyebut kata 'kembar' atau bahkan nama Atsumu.

Saat pergantian kelas, jam istirahat, maupun pulang, semua orang masih membicarakannya. Ginjima dan Kosaku sangat kelihatan berusaha untuk tidak membahas hal itu, bahkan Suna yang biasanya sangat suka membicarakan orang lain, kini hanya membahas permainan arcade yang buka di dekat sekolah.

“Jadi, kau mau ikut kami main di arcade?” tanya Ginjima saat kami bertemu di loker depan.

“Tidak bisa,” ucapku cepat sembari mengganti sepatuku.

“Kita tidak ada ekskul voli hari ini,” imbuh Suna. “Atau kau mungkin mau pergi ke tempat lain?”

“Tidak. aku akan langsung pulang.”

“Perlu kami temani?” Kosaku mengangkat bahu enteng. “Hitung-hitung, kita bisa kerja PR bersama.”

“Terima kasih tapi aku benar-benar bisa sendiri.”

Aku terlalu takut. Mungkin kekhawatiranku membuatku menutup mata bahw